Yakobus 1:2 Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan,
Dalam kehidupan sehari-hari, pencobaan itu biasanya ada dua bentuk yaitu berbentuk penderitaan maupun berbentuk godaan kenikmatan hidup/daging. Dari kedua pencobaan itu yang paling berbahaya adalah pencobaan yang bersifat godaan kenikmatan hidup. Mengapa? Karena kenikmatan hidup sering membuat orang terlena dan lupa diri. Kenikmatan hidup sering membuat orang tidak sadar bahwa jalannya sudah menyimpang dari kebenaran firman Tuhan.
Salah satu bentuk godaan kenikmatan hidup yang paling berbahaya adalah “Pujian”. Pujian membuat kita akan berusaha terus untuk mengejar dan mendapatkan pujian-pujian lainnya. Dalam dunia pekerjaan, pujian adalah salah satu senjata yang paling ampuh untuk meningkatkan semangat kerja karyawan. Pujian tidak memerlukan biaya, namun dampaknya bisa lebih besar dari pada penghargaan berbentuk materi. Pujian membuat karyawan bersangkutan merasa di hargai atas usaha dan pekerjaaannya.
Namun satu hal, orang yang terlalu sering dipuji akan membuat dia rawan jatuh dalam kesombongan. Mengapa? Karena pujian akan mendongkrak harga diri orang yang menerima pujian tersebut. Semakin banyak pujian yang diterima maka semakin tinggi pula harga dirinya hingga suatu waktu ia akan merasa bahwa dirinya sudah lebih hebat dari orang lain. Bila itu sudah terjadi maka yang muncul adalah kata-kata yang berisikan nada kesombongan. Kata-kata yang keluar dari mulutnya cenderung mengejek, mengolok-olok dan merendahkan orang lain. Dia merasa dirinyalah yang paling benar, tidak mau lagi menerima saran dan pendapat orang. Akibatnya kehidupannya penuh dengan pertentangan-pertentangan dan percekcokan-percekcokan. Komunikasi dengan orang lain tidak terjalin harmonis. Oleh sebab itu agar tidak terjebak dalam kesombongan maka kita harus menyadari bahwa apapun yang kita capai pada saat ini bukan karena kekuatan kita. Saya sangat menyenangi sebuah lagu rohani yang berbunyi begini:
Bukan karena kekuatanku,
ku dapat jalani hidup ini
tanpa Tuhan yang di sampingku
ku tak mampu sendiri.....dsb
Akan hal ini Tuhan dengan jelas dan tegas mengatakannya pada ayat dibawah:
Ulangan 9:4 Janganlah engkau berkata dalam hatimu, apabila TUHAN, Allahmu, telah mengusir mereka dari hadapanmu: Karena jasa-jasakulah TUHAN membawa aku masuk menduduki negeri ini; padahal karena kefasikan bangsa-bangsa itulah TUHAN menghalau mereka dari hadapanmu.
Kita harus menyadari bahwa kita bukan siapa-siapa, apapun yang kita capai pada saat ini adalah karena Tuhan oleh sebab itu selayaknyalah segala pujian dikembalikan kepada Tuhan.
Bentuk pencobaan yang kedua adalah penderitaan hidup. Ini adalah bentuk pencobaan yang paling berusaha di hindari oleh setiap orang. Tidak ada seorangpun yang mau menderita. Semua orang ingin senang, tenang dan bahagia. Manusia ingin menikmati ketenangan hidup tanpa mau diganggu hal yang lain yang dapat merusak ketenangannya. Tuhan Yesus pernah berdoa kepada Bapa agar jika boleh cawan itu dilalukan dari-Nya. Itulah daging, secara daging Tuhan Yesus berkehendak jika boleh Ia lepas dari penderitaan yang harus ditanggungnya. Namun Dia tidak tunduk pada keinginan dagingnya itu, melainkan tunduk pada keinginan Bapa.
Dalam Alkitab ada satu orang yang tercatat tidak bersungut-sungut walaupun ia mengalami pencobaan penderitaan yang hebat, ia adalah Ayub. Dalam satu hari Ayub kehilangan harta dan anak-anaknya. Bahkan orang yang dikasihinyapun yakni istrinya, akhirnya meninggalkannya. Namun Ayub tidak bersungut-sungut dan mempersalahkan siapapun termasuk Tuhan, ia menerima segala yang dideritanya. Ini dapat kita lihat pada ayat dibawah :
Ayub 1:21-22 katanya: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.
Mengapa Ayub bisa menerima segala pencobaan itu? Pertama, Itu karena dia memiliki sifat kerendahan hati. Ia menyadari ketika ia ada di dunia ini ia tidak memiliki apa-apa. Semua yang diperolehnya itu berasal dari Tuhan, maka berhak pula Tuhan mengambil apa yang telah di berikanNya itu. Kedua, ia menyadari bahwa hidupnya demikian pula anak-anaknya tidak luput dari kesalahan, karena itu ia merasa layak untuk menerima hukuman dari Tuhan seandainya Tuhan menghukum dia karena kesalahan itu. Itu dapat kita lihat pada ayat dibawah :
Ayub 1:5 Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: "Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati." Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa.
Walaupun demikian, bagi anak-anak Tuhan pencobaan yang Tuhan ijinkan tidak akan pernah melebihi kekuatan kita. Karena Tuhan mengasihi kita dan tidak akan membiarkan kita dicobai melebihi kekuatan kita.
I Korintus 10:13 Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.
Percayalah bahwa ketika kita dicobai, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita walaupun terkadang seolah-olah kita merasakan kita sendirian. Kalau Tuhan meninggalkan kita, kita pasti tidak akan dapat hidup lagi. Kita pasti binasa karena pencobaan itu.
Tuhan Yesus adalah manusia satu-satunya yang ketika berada dalam pencobaan di tinggalkan oleh Bapa. Untuk menebus dosa seluruh dunia, Yesus harus menderita dan mencurahkan darahnya di kayu salib. Puncak penderitaanNya adalah bahwa dia untuk sementara waktu harus di tinggalkan Bapa. Yesus tahu dan merasakan Bapa telah meninggalkannya sehinga dia berkata seperti yang tertera pada ayat di bawah:
"Eli, Eli, lama sabakhtani?" Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27:46)
Mengapa Bapa meninggalkan Dia? Pertama, karena pada saat itu tubuh Tuhan Yesus sedang menanggung kutuk dosa seluruh dunia. Bapa yang suci tidak bisa bersatu dengan dosa, itulah sebabnya mengapa Bapa harus meninggalkan Dia. Kedua, jika Bapa masih bersama-sama dengan dia maka Yesus tidak bisa menyerahkan nyawanya. Itulah sebabnya pada saat Bapa meninggalkan Dia disitulah Yesus menyerahkan nyawa-Nya.
Kembali kepada Yakobus 1: 2 diatas, ada 4 alasan mengapa Paulus mengajak kita untuk menganggap suatu kebahagiaan ketika mengalami pencobaan, yaitu :
1. Pencobaan membuat kita lebih tekun mengikut Tuhan.
Yakobus 1:3 sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.
Biasanya orang yang pernah menghadapi pencobaan dan menang akan cenderung lebih kokoh iman keyakinannya dari pada orang yang tidak pernah merasakan penderitaan. Orang ini cenderung lebih memiliki mental yang teguh dan tidak cengeng. Dia akan lebih bisa menguasai diri sehingga tidak gampang terjebak akan tipu daya Iblis.
Daud adalah contohnya. Ketika masa puncak kejayaannya dia harus kembali menghadapi pencobaan dimana anaknya Absalom memberontak dan mengambil alih tahta kepemimpinan. Ketika dalam pengungsian seorang kerabat Saul yang bernama Simei bin Gera mengutuki Daud dengan berkata begini "Enyahlah, enyahlah, engkau penumpah darah, orang dursila! TUHAN telah membalas kepadamu segala darah keluarga Saul, yang engkau gantikan menjadi raja, TUHAN telah menyerahkan kedudukan raja kepada anakmu Absalom. Sesungguhnya, engkau sekarang dirundung malang, karena engkau seorang penumpah darah." (2 Samuel 16:7-8)
Daud tidak membalas perkataan itu walaupun ia mampu melakukannya, bahkan salah seorang dari anakbuahnya itulah Abisai menawarkan diri untuk memenggal kepala Simei. Namun Daud tidak bertindak dan tidak mau berbuat dosa. Ia hanya berkata begini: "Apakah urusanku dengan kamu, hai anak-anak Zeruya? Biarlah ia mengutuk! Sebab apabila TUHAN berfirman kepadanya: Kutukilah Daud, siapakah yang akan bertanya: mengapa engkau berbuat demikian?" (2 Samuel 16:10)
Mengapa Daud bisa bertindak demikian? Itu karena penderitaan demi penderitaan membuat dia memiliki iman yang teguh sehingga ia menyerahkan setia permasalahannya kepada Tuhan.
2. Pencobaan membuat kita lebih matang.
Yakobus 1:4 Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.
Orang yang banyak merasakan pahit manisnya kehidupan akan lebih kuat. Ia akan kokoh seperti batu karang, tidak akan gampang diombang-ambingkan badai. Ia sudah mengenal seluk beluk kehidupan sehingga tidak gampang jatuh dalam kekuatiran. Orang yang gampang diombang-ambingkan kekuatiran tidak akan pernah menghasilkan buah yang matang, itu tercatat pada ayat dibawah:
Lukas 8:14 Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.
3. Pencobaan membuat kita menyadari bahwa kita butuh hikmat dari Tuhan.
Yakobus 1:5 Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, -- yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit --, maka hal itu akan diberikan kepadanya.
Sebenarnya sering pencobaan dan penderitaan terjadi karena kita kurang berhikmat dan salah dalam mengambil keputusan. Dalam dunia bisnis, salah dalam mengambil keputusan bisa membuat usaha bangkrut. Bukan hanya dalam dunia bisnis, dalam hal apapun jika salah dalam mengambil keputusan akan menghasilkan penderitaan. Itulah sebabnya mengapa kita membutuhkan hikmat dari Tuhan. Hikmat akan menghindarkan kita dari kesulitan-kesulitan hidup.
Amsal 29:15 Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya.
4. Pencobaan adalah bukti bahwa Tuhan masih mengasihi kita.
Ibrani 12:6 karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak."
Sebenarnya tanpa kita sadari kita sering menyimpang dari kehendak Tuhan. Kalau tidak ada sesuatu yang mengingatkan kita terkadang kita tidak menyadari kalau kita telah melakukan kesalahan.
Contoh : Banyak orang menyadari kalau merokok itu salah ketika mereka sudah terkena penyakit paru-paru. Sebelum penyakit itu menimpa mereka walaupun pada bungkus rokok tertulis “merokok dapat merugikan kesehatan” mereka cenderung mengabaikan dan tidak memperdulikan peringatan itu.
Kita juga sering demikian, ketika melakukan suatu hal yang tidak berkenan,suara Roh Kudus sering mengingatkan di dalam hati bahwa kita telah melakukan hal yang salah. Namun peringatan-peringatan itu sering diabaikan. Akibatnya datanglah hajaran. Namun, apapun bentuk dari hajaran, itu tandanya Tuhan masih peduli dan ingin mengembalikan kita kejalan yang benar sehingga kita tidak binasa.
Oleh sebab itu marilah kita tidak bersungut-sungut ketika mengalami pencobaan. Karena pencobaan pada akhirnya mendatangkan kebaikan bagi kita.
Roma 8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
Tuhan Yesus memberkati. Amin



Oleh sebab itu agar hidup senantiasa beruntung, yakinkan bahwa saudara hidup dalam ketiga hal diatas maka keberuntungan pasti senantiasa akan mengikuti kita. Tuhan Yesus memberkati. Amin...
Meneladani Pelayanan Yesus (Bag. 5) :
Pencobaan 3: Pencobaan atas keinginan mata dan keangkuhan Hidup.
Matius 4:8-10 Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihat... 











